Jumat, 31 Oktober 2014

Manusia dan Keindahan - Universitas Gunadarma



TUGAS ILMU BUDAYA DASAR
MANUSIA DAN KEINDAHAN

NAMA                : FEBY RENDRA FEBRIANI
NPM                   : 14514139
KELAS               : 1PA15



Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang  Maha Esa, penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Keindahan.” Dalam pembuatan makalah ini, penulis mendapatkan informasi dari sumber terpercaya. Penulis menyadari bahwa masih jauh dari kata sempurna untuk itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun untuk lebih menyempurnakan masalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca, akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.



Pendahuluan

A.   Latar Belakang

                  Setiap manusia dibekali dngan banyak sekali keindahan, baik dari dalam maupun luar dan sekitarnya. Kata keindahan berasal dari kata indah yang berarti bagus, permai, canti, elok, molek.

B.   Tujuan

Tujuan ditulisnya makalah ini untuk mengetahui sejauh mana hubungan dan keterkaitan antara manusia dan keindahan, mulai dari pengertian masing-masing dan hubungan kedunya. Selain itu juga memberikan informasi kepada pembaca mengenai apa saja keterkaitan manusia dan keindahan serta segala aspeknya.



5.1       Keindahan
5.1.1          Pengertian Keindahan
      Keindahan atau keelokan merupakan sifat dan ciri dari orang, hewan, tempat, objek, atau gagasan yang memberikan pengalaman persepsi kesenangan, bermakna, atau kepuasan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, keindahan diartikan sebagai keadaan yang enak dipandang, cantik, bagus benar atau elok. Keindahan dipelajari sebagai bagian dari estetika, sosiologi, psikologi sosial, dan budaya. Sebuah "kecantikan yang ideal" adalah sebuah entitas yang dikagumi, atau memiliki fitur yang dikaitkan dengan keindahan dalam suatu budaya tertentu, untuk kesempurnaannya
5.1.2          Perbedaan Keindahan sebagai Kualitas Abstrak dengan Keindahan sebagai sebuah Benda tertentu yang indah
Keindahan sebagai suatu kualitas abstrak (Beauty as an abstract quality) menggambarkan sesuatu yang kontemporer dan bersifat nonrealistic di mana sang pencipta karya menggambarkan sesuatu yang tidak bisa dimengerti secara umum dan tidak sesuai dengan realita. Keindahan sebagai kualitas abstrak menggambarkan suatu bentuk dalam yang keindahan di mana keindahan tersebut bersifat eksklusif dan hanya dapat dimengerti oleh orang yang menciptakan keindahan tersebut berdasarkan apa yang dipahaminya.
Sedangkan keindahan sebagai sebuah benda tertentu yang indah adalah keindahan yang memiliki konsep pemahaman dan nilai yang berbeda dengan kualitas abstrak di mana benda yang dimaksud dalam hal ini adalah sesuatu yang mewakili keindahan secara umum dan dapat dengan mudah diterima maupun dipahami oleh masyarakat.
Contoh keindahan dalam bentuk benda:
Secara alami : Manusia menaruh rasa kagum atas keindahan alam yang merupakan ciptaan dari  Yang Maha Kuasa.
Buatan tangan : Karya seni yang memiliki nilai estetika yang dapat dinilai oleh manusia.
5.13          Keindahan yang Seluas-luasnya
Keindahan dalam arti luas merupakan pengertian semula dari bangsa yunani dulu yang didalamnya tercakup pula kebaikan. Dalam arti estetis keindahan bias berdasarkan penglihatan, pendengaran, jadi keindahan yang seluas-luasnya meliputi :

- Keindahan seni
- Keindahan alam
- Keindahan moral
- Keindahan intelektual
Dari itu dapat disimpulkan, bahwa keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebaikan dari garis, warna, bentuk, nada dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat, bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan diantara benda itu dengan si pengamat.
5.14           Nilai Estetik
Nilai estetik ialah nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan. Yang terdiri dari nilai moral, nilai ekonomik, niloai pendidikan, dan sebagainya.
5.1.5          Perbedaan Nilai Ekstrinsik dan Nilai Instrinsik
Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya (instrumental/contributory value), yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau pembantu. Contohnya adalah tari-tarian Darma-minakjinggo, tarian itu merupakan nilai ekstrinsik, sedangkan pesan yang ingin disampaikan oleh tarian itu adalah kebaikan melawan kejahatan merupakan nilai instrinsik. Jadi nilai instrinsik itu nilai yang terkandung dalam suatu benda atau sarana tersebut.
5.1.6          Kontemplasi dan Ekstansi
Keindahan dapat digolongkan menurut selera seni dan selera biasa. Keindahan yang didasarkan pada selera seni didukung oleh faktor kontemplasi dan ekstansi.
Kontemplasi adalah suatu proses bermeditasi, merenungkan atau berpikir penuh dan mendalam untuk mencari nilai-nilai, makna, manfaat dan tujuan atau niat suatu hasil penciptaan. Dalam kehidupan sehari-hari orang mungkin berkontemplasi dengan dirinya sendiri atau mungkin juga dengan benda-benda ciptaan Tuhan atau dengan peristiwa kehidupan tertentu berkenaan dengan dirinya atau di luar dirinya.
Di kalangan umum kontemplasi diartikan sebagai aktivitas melihat dengan mata atau dengan pikiran untuk mencari sesuatu dibalik yang tampak atau tersurat misalnya, dalam ekspresi seseorang sedang berkontemplasi dengan bayang-bayang atau dirinya dimuka cermin.
Ekstansi adalah dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang indah.
Apabila kontemplasi dan ekstansi itu dihubungkan dengan kreativitas, maka kontemplasi itu faktor pendorong untuk menciptakan keindahan, sedangkan ekstansi merupakan faktor pendorong untuk merasakan, menikmati keindahan. Karena derajat atau tingkat kontemplasi dan ekstansi itu berbeda-beda antara setiap manusia, maka tanggapan terhadap keindahan karya seni juga berbeda-beda.
5.2       Renungan
Renungan berasal dari kata renung; artinya diam-diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung.Biasanya manusia akan merenung apabila ada sesuatu atau musibah yang terjadi. Dalam merenung untuk menciptakan seni ada beberapa teori antara lain :
Teori Pengungkapan
Dalil dari teori ini ialah bahwa “Art is an expression of human feeling” ( seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia ). Teori ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seorang seniman ketika menciptakan suatu karya seni. Tokoh teori ekspresi yang paling terkenal ialah filsuf Italia Benedeto Croce (1886-1952) dengan karyanya yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris “aesthetic as Science of Expresion and General Linguistic”. Beliau antara lain menyatakan bahwa “art is expression of impressions” (Seni adalah pengungkapan dari kesan-kesan) Expression adalah sama dengan intuition. Dan intuisi adalah pengetahuan intuitif yang diperoleh melalui penghayatan tentang hal-hal individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (images). Dengan demikian pengungkapan itu berwujud sebagai gambaran angan-angan seperti misalnya images wama, garis dan kata. Bagi seseorang pengungkapan berarti menciptakan seni dalam dirinya tanpa perlu adanya kegiatan jasmaniah keluar. Pengalaman estetis seseorang tidak lain adalah ekspresi dalam gambaran angan-angan.
Teori Metafisik
Teori semi yang bercorak metafisis merupakan salah satu teori yang tertua, yakni berasal dari Plato yang karya-karya tulisannya untuk sebagian membahas estetik filsafati, konsepsi keindahan dan teori seni. Mengenai sumber seni Plato mengemukakan suatu teori peniruan (imitation theory). Ini sesuai dengan rnetafisika Plato yang mendalilkan adanya dunia ide pada taraf yang tertinggi sebagai realita Ilahi. Pada taraf yang lebih rendah terdapat realita duniawi ini yang merupakan cerminan semu dan mirip realita ilahi itu. Dan karya seni yang dibuat manusia hanyalah merupakan mimemis (timan) dari realita duniawi Sebagai contoh Plato mengemukakan ide Ke-ranjangan yang abadi dan indah sempurna ciptaan Tuhan. Kemudian dalam dunia ini tukang kayu membuat ranjang dari kayu yang merupakan ide tertinggi ke-ranjangan-an itu. Dan akhirnya seniman meniru ranjang kayu itu dengan menggambarkannya dalam sebuah lukisan. Jadi karya seni adalah tiruan dari suatu tiruan lain sehingga bersifat jauh dari kebenaran atau dapat menyesatkan. Karena itu seniman tidak mendapat tempat sebagai warga dari negara Republik yang ideal menurut Plato.
Teori Psikologis
Teori-teori metafisis dari para filsuf yang bergerak diatas taraf manusiawi dengan konsepsi-konsepsi tentang ide tertinggi atau kehendak semesta umumnya tidak memuaskan, karena terlampau abstrak dan spekulatif. Sebagian ahli estetik dalam abad modem menelaah teori-teori seni dari sudut hubungan karya seni dan alam pikiran penciptanya dengan mempergunakan metode-metode psikologis. Misalnya berdasarkan psikoanalisa dikemukakan teori bahwa proses penciptaan seni adalah pemenuhan keinginan-keinginan bawah sadar dari seseorang seniman. Sedang karya seninya itu merupakan bentuk terselubung atau diperhalus yang diwujudkan keluar dari keinginan-keinginan itu. Suatu teori lain tentang sumber seni ialah teori permainan yang dikembangkan oleh Freedrick Schiller (1757-1805) dan Herbert Spencer (1820-1903).



Daftar Pustaka

http://hendrowidodo46.blogspot.com/2011/06/keindahan-sebagai-suatu-kualitas.html

Manusia dan Cinta Kasih - Universitas Gunadarma

TUGAS ILMU BUDAYA DASAR
Manusia dan Cinta Kasih
 


NAMA          : FEBY RENDRA FEBRIANI
NPM             : 14514139
KELAS         : 1PA15


Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang  Maha Esa, penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Manusia dan Cinta Kasih.” Dalam pembuatan makalah ini, penulis mendapatkan informasi dari sumber terpercaya. Penulis menyadari bahwa masih jauh dari kata sempurna untuk itu penulis menerima kritik dan saran yang bersifat membangun untuk lebih menyempurnakan masalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca, akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.


Pendahuluan

A.   Latar Belakang

                  Pada dasarnya, manusia diciptakan memiliki anugerah oleh Allah yaitu berupa perasaan sebagai kebutuhan manusia yang fundamental.
                  Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia memiliki perasan cinta kasih dalam segala aspek kehidupan. Cinta kepada keluarga, cinta kepada saudara, cinta kepada sahabat, cinta kepada teman, cinta pada karir, cinta kepada alam, dan lain lain. Dan tidak ada manusia di dunia yang tidak memiliki rasa saling mengasihi kecuali yang telah hilang jiwanya.

B.   Tujuan

Tujuan ditulisnya makalah ini untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai apa saja keterkaitan manusia dan cinta kasih serta segala aspeknya.


4.1     Cinta Kasih
4.1.1          Pengertian Cinta Kasih
Menurut kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S Poerwa Darminta, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada), ataupun (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan, dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta. Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasih. Walaupun cinta kasih memegang peranan yang penting dalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan kelurga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat dimasyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab. Demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan Tuhanya sehingga manusia menyembah Tuhan dengan ikhlas, mengikuti perintahNya, dan berpegang teguh pada syariatNya.

            Pengertian tentang cinta dikemukakan juga oleh  Dr. Sarlito W. Sarwono, dikatakan bahwa cinta memiliki tiga unsur yaitu: keterikatan. Keintiman, dan kemesraan. Yang dimaksud dengan keterikatan adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia, kalau janji dengan dia harus ditepati. Unsur yang kedua adalah keintiman yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Panggilan-panggilan formal seperti bapak, ibu, saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan, sayang dan sebagainya.Makan minum dari satu piring, cangkir tanpa rasa risi, pinjam meminjam baju, saling memakai uang tanpa rasa berhutang, tidak saling menyimpan rahasia dan lain-lainya. Unsur yang ketiga adalah kemesraan, yaitu adanya rasa ingin membelai dan dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang,dan seterusnya.

4.1.2          Unsur Cinta
1.keterikatan
adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi dengan orang lain kecuali dengan dia, ada uang sedikit beli hadiah untuk dia
2.keintiman
adanya kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi panggilan formal seperti bapak, ibu saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan sayang dan sebagainya.makan sepiring berdua
3.kemesraanadanya rasa ingin membelai dan dibelai, rasa kangen rindu kalo jauh atau lama tak bertemu, adanya ungkapan ungkapan rasa sayang dan seterusnya.

4.1.3          Unsur Cinta dalam Segitiga
1.    Pertama, Intimasi. Intimasi adalah aspek emosi dari cinta. Intimasi pada awal hubungan tumbuh dengan baik, tapi kalau tidak dirawat bisa menurun ke titik nol. Bila relasi dan komunikasi tidak bertumbuh dengan baik intimasi menjadi mati.
2.   Kedua, Passion atau gairah. Ini adalah sisi motivasi dari segitiga cinta itu. Sisi gairah ini punya peranan penting bagi perkembangan fisiologis dan keinginan yang kuat untuk bersatu dengan yang dicintai. Pada mulanya passion bertumbuh cepat dan sangat kuat, sampai tidak lama kemudian passion ini jadi kebiasaan. Passion punya segi motivasi yang berkekuatan positif. Inilah yang memikat anda kepada seseorang. Ini cepat berkembang dan bisa juga cepat mati. Sisi negatifnya adalah jika hubungan sudah saling menyakitkan maka daya tarik tadi lama kelamaan memudar.
3.   Ketiga, sisi komitmen. Ini merupakan sisi kognitif dari cinta. Komitmen adalah tekad untuk memelihara cinta. Komitmen ini bertumbuh mulai dari taraf nol saat pertama kali bertemu dengan yang dicintai, dan bertumbuh ketika semakin saling mengenal satu dengan lainnya. Kuncinya saling mengenal dan menghargai. Bila relasi melemah maka komitmen juga cenderung melemah.
4.1.4         Tingakatan Cinta
Seorang ulama, Abdullah Nasih Ulwan membagi cinta menjadi tiga:
1. Mahabbah Ula (Cinta yang Utama)
Ini adalah cinta kepada Allah SWT dan Rosulullah SAW.
2. Mahabbah Al Wustho’ ( Cinta yang menengah)
Ini adalah cinta kepada Ibu, Bapak, Istri, Anak-anak, Perniagaan, Harta, dan sejenisnya didunia.
Dansemua cinta  ini karena kita cinta kepada Allah SWT.
3. Mahabbah Al Adna (Cinta rendahan)
Ini adalah Mahabbah Al Wustho yang menggeser Mahabbah Ula.

4.2     Cinta menurut Ajaran Agama
4.2.1         Bentuk-Bentuk Cinta
                                                   1. Cinta kepada Tuhan
cinta kepada Tuhan merupakan cinta yang paling utama pada manusia. Jika kita tidak mencintai tuhan , bagaimana bisa kita mencintai sesama makhluk ciptaan tuhan. Oleh karena itu cinta kepada Tuhan adalah cinta yang paling utama.

2. Cinta kepada orangtua
cinta kepada orangtua merupakan wajib hukumnya bagi seorang anak. Tanpa adanya orangtua, kita tidak bisa menjadi seperti sekarang. Bagaimana jika orangtua tidak mencintai kita ? kita tidak akan hidup layak seperti sekarang ini. Mau bagaimanapun kondisi orangtua, karakter orangtua , kita harus tetap mencintai karena mereka adalah orang yang sudah mendidik kita dari kecil hingga menjadi seperti ini.

3. Cinta kepada sesama makhluk tuhan
cinta kepada sesama makhluk tuhan sama saja kita seperti mencintai tuhan. Kita harus berdamai dan menghargai sesama makhluk tuhan. Sebab tidak ada manusia di dunia ini yang sempurna dan sama derajatnya di mata tuhan.

4. Cinta kepada Rasul
cinta kepada Rasul merupakan cinta yang paling utama setelah cinta kepada Tuhan. Rasul adalah suri tauladan yang baik bagi kita. Sikap, perbuatan dan akhlak Rasul adalah merupakan terpuji dan harus kita contoh sebagai pedoman dalam hidup.

5. Cinta kepada diri sendiri
apabila kita sudah bisa mencintai beberapa point diatas, maka kita akan bisa mencintai diri kita sendiri. Janganlah benci terhadap apa yang telah terjadi dan semua harus di syukuri meskipun itu pahit. Maka akan ada hikmah tersendiri untuk kita.
4.2.2                Ayat Al-Quran tentang Cinta
            Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(3:31)


4.3     Kasih Sayang
4.3.1            Pengertian Kasih Sayang
         Pengertian kasih sayang menurut kamus umum bahasa Indonesia karangan W.J.S.Poerwadarminta adalah perasaan cinta atau perasaan suka kepada seseorang.
Dalam kehidupan berumah tangga kasih saying merupakan kunci kebahagiaan. Kasih saying merupakan pertumbuhan dari cinta. Pencintaan muda-mudi pada pria dan wanita bila diakhiri dengan perkawinan. Maka di dalam rumah tangga keluarga muda itu bukan lagi bercinta-cintaan. Tetapi sudah bersifat kasih mengasihi atau saling menumpahkan kasih sayang.
Kasih sayang adalah faktor penting dalam suatu kehidupan. Karena jika kita memiliki cinta namun tidak berdasar pada kasih sayang, maka seseorang tersebut tidak mengerti apa itu cinta yang sesungguhnya, cinta terhadap makhluk ciptaan Tuhan. Maka perasaan cinta harus didasari oleh kasih sayang atau belas kasih.
Kasih saying dasarkomunikasi dalam suatu keluarga. Komunikasi antara anak dan orang tua. Pada prinsipnya anak terlahir dan terbentuk sebagai hasil curahan kasih saying orang tuanya. Pengembangan watak anak dan selanjutnya tak boleh lepas dari kasih saying dan perhatian orang tua. Suatu hubungan yang harmonis akan terjadi bila hal itu terjadi secara timbal balik antara orang tua dan anak.
4.3.2            Macam-Macam Cinta Kasih dari Orang Tua
         Adanya kasih saying ini mempengaruhi kehidupan si anak dalam masyarakat. Orang tua dalam memberikan kasih sayangnya bermacam macam demikian pula sebaliknya. Dari cara pemberian cinta kasih ini di bedakan :
·               Orang tua bersifat aktif, si anak bersifat pasif
·               Orang tua bersifat pasif, si anak bersifat aktif
·               Orang tua bersifat pasif, si anak bersifat pasif
·               Orang tua bersufat aktif, si anak bersifat aktif
4.3.3            Contoh Kasih Sayang
1.       Mengajak anak untuk senantiasa menghormati dan menghargai seluruh ciptaan tuhan
2.        Menanamkan sifat saling menyayangi sesama mahkluk hidup, seperti menolong orang yang jatuh, tidak menginjak serangga di tanah, tidak memetik bunga sembarangan dll
3.      Ajak anak untuk mengumpulkan berbagai barang untuk disumbangkan ke badan amal
4.      Orangtua dapat menanamkan kasih sayang lewat memperkenalkan buku-buku, film atau acara televisi yang mendukung. Diskusikan berbagai macam perasaan yang muncul dalam cerita
5.      Mengajak anak berdiskusi tentang topik-topik yang dapat menumbuhkan rasa kasih sayang
6.      Orang tua harus senantiasa memberi contoh bagaimana bersikap pada orang lain, misalnya mimik muka yang selalu ramah, selalu siap membantu orang yang membutuhkan dan peduli terhadap keadaan orang lain
7.      Membiarkan anak bermain imajinasi. Melalui permainan ini anak akan belajar memposisikan dirinya sebagai orang lain Ini adalah salah satu cara untuk menumbuhkan empati


4.4     Kemesraan
4.4.1          Pengertian Kemesraan
                  Kemesraan berasal dari kata mesra yang berarti erat atau karib sehingga kemesraan berarti hal yang menggambarkan keadaan sangat erat atau karib. Kemesraan juga bersumber dari cinta kasih dan merupakan realisasi nyata. Kemesraan dapat diartikan sama dengan kekerabatan, keakraban yang dilandasi rasa cinta dan kasih.
Tingkatan kemesraan dapat dibedakan berdasarkan umur, yaitu:
1.      Kemesraan dalam Tingkat Remaja, terjadi dalam masa puber atau genetal pubertas yaitu dimana masa remaja memiliki kematangan organ kelamin yang menyebabkan dorongan seksualitasnya kuat.
2.      Kemesraan dalam Rumah Tangga, terjadi antara pasangan suami istri dalam perkawinan. Biasanya pada tahun tahun wal perkawinan, kemesraan masih sangat terasa, namun bisa sudah agak lama biasanya semakin berkurang.
3.      Kemesraan Manusia Usia Lanjut, Kemsraan bagi manusia berbeda dengan pada usia sebelumnya. Pada masa ini diwujudkan dengan jalan – jalan dan sebagainya. 

4.4.2          Puisi tentang Kemesraan
                        Kehangatanmu

Terasa hangat dikala dirimu ada di sampingku
Menebarkan pesona yang ada ke dalam hatiku
Membuat aku tau akan artinya cinta
Didalam jiwa yang gembira
Dan di dalam cinta yang bergelombang
Hanya kamu d hatiku selamanya…

4.5     Pemujaan
   Pemujaan adalah salah satu manifestasi cinta manusia kepada Tuhannya yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual.

4.6     Belas Kasihan
4.6.1            Pengertian Belas Kasih
                                Dalam surat Yohanes dijelaskan ada 3 macam cinta. Cinta Agape ialah cinta manusia kepada Tuhan. Cinta Philia ialah cinta kepada ibu bapak (orang tua) dan saudara. Dan ketiga cinta erros atau amor ini ialah cinta antara pria dan wanita. Beda antara cinta amor dan eros  ini adalah citna eros cinta karena kodrati sebagi laki-laki dan perempuan, sedangkan cinta amor karena unsur-unsur yang sulit dinalar, misalnya gadis normal yang cantik mencintai dan mau menikahi seorang pemuda yang kerdil. Cinta terhdap sesama merupakan perpaduan cinta agape dan cinta philia. Cinta sesame ini diberikan istilah belas kasihan untuk membedakan  antara cinta kepada orang tua, pria-wanita, cinta kepada Tuhan. Dalam cinta kepada sesama ini diberi istilah belas kasihan, karena cinta disini buka karena cakapnya, kayanya, cantiknya, melainkan karena penderitaannya.
4.6.2            Cara-Cara Menumpahkan Belas Kasih
Begitu banyak cara yang dapat dilakukan bagi kita untuk menunujukkan kepedulian kita kepada orang lain . Kita dapat menumpahkan belas kasih dalam bentuk sebuah materi dan sebuah non materi , belas kasih berupa materi biasanya berbentuk suatu benda yang dapat membantu dalam kehidupannya dan belas kasih dalam non materi dapat berupa sebuah jasa atau sebagainya yang membantunya kearah yang lebih baik .

Yatim piatu, orang-orang jompo yang tidak mempunyai ahli waris, pengemis yang benar-benar tidak mampu bekerja.orang sakit dirumah sakit, orang cacat, masyarakat kita yang hidup menderita dan sebagainya adalah orang-orang yang wajib mendapatkan sebuah belas kasih karena di jaman seperti sekarang ini sudah jarang sekali individu yang menaruh belas kasih kepada orang-orang tersebut .

Intinya  belas kasih memiliki definisi dan penerapan yang luas , sekarang tinggal kita yang mengamalkan dari sebuah kata belas kasih itu . Apakah kita mampu memberikan suatu hal yang bermanfaat bagi orang lain sehingga apa yang kita lakukan itu menjadi sebuah tinta emas yang pernah kita lakukan dan semoga dengan pembahasan kali ini kita menjadi pribadi yang mudah memberikan belas kasihnya kepada siapa saja yang membutuhkan jasa kita .

4.7     Cinta Kasih Erotis
           Cinta kasih kesaudaraan merupakan cinta kasih antara orang-orang yang sama-sama sebanding, sedangkan cinta kasih ibu merupakan cinta kasih terhadap orang-orang yang lemah tanpa daya. Walaupun terdapat perbedaan besar antara kedua jenis tersebut, Kedua-duanya mempunyai kesamaan bahwa pada hakekatnya cinta kasih tidak terbatas kepada seseorang saja. Berlawan dengan kedua jenis cinta kasih tersebut ialah cinta kasih erotis, yaitu kehausan akan penyatuan akan penyatuan yang sempurna, akan penyatuan dengan seseorang. Pada hakekatnya cinta kasih tersebut bersifat bersifat ekslusif, bukan universal, dan juga barangkali merupakan bentuk cinta kasih yang paling tidak dapat dipercaya.

Daftar Pustaka




Emil Kraepelin - Tokoh Psikologi Klinis - Universitas Gunadarma

TUGAS INDIVIDU
PSIKOLOGI UMUM

PSIKOLOGI KLINIS
EMIL KRAEPELIN 

Nama    : Feby Rendra Febriani
NPM     : 14514139
Kelas     : 1PA15




UNIVERSITAS GUNADARMA
2014
BIOGRAFI Emil Kraepelin




Emil Kraepelin adalah seorang pelopor dalam pengembangan psikiatri sebagai suatu disiplin ilmu. Ia yakin bahwa semua penyakit mental memiliki penyebab organik, dan dia adalah salah satu ilmuwan pertama yang menekankan patologi otak pada penyakit mental. Seorang psikiater klinis dan eksperimental terkenal, Kraepelin mengembangkan sistem klasifikasi modern kita untuk penyakit mental. Setelah menganalisis ribuan studi kasus, ia memperkenalkan dan mendefinisikan istilah "dementia praecox", "manic-depressive psikosis," dan "paranoia." Sebagai pendiri Psychopharmacology, kerja eksperimental Kraepelin terfokus pada pengaruh minuman keras pada sistem saraf pusat, pada sifat tidur, dan pada efek kelelahan pada tubuh.

Kraepelin, anak seorang PNS, lahir tahun 1856 di Neustrelitz, di distrik Mecklenburg Jerman. Dia pertama kali diperkenalkan ke biologi oleh saudaranya Karl, 10 tahun lebih tua dan, kemudian, direktur Museum Zoologi Hamburg. Kraepelin mulai studi kedokteran di 18, di Leipzig dan Wurzburg, Jerman. Di Leipzig, ia belajar psikologi dengan Wilhelm Wundt dan menulis esai hadiah pemenang, "Pengaruh Akut Penyakit dalam Gangguan Mental Penyebab." Dia menerima gelar M.D. pada tahun 1878.

Pada 1879, Kraepelin pergi untuk bekerja dengan Bernhard von Gudden di University of Munich, di mana ia menyelesaikan tesis, Tempat Psikologi di Psikiatri. Kembali ke Universitas Leipzig pada tahun 1882, ia bekerja di klinik neurologi Erb W.'s dan di laboratorium Wundt's Psychopharmacology. pekerjaan utama-Nya, Kompendium der Psychiatrie, pertama kali diterbitkan pada tahun 1883. Di dalamnya, ia berpendapat bahwa psikiatri adalah cabang ilmu kedokteran dan harus diselidiki oleh observasi dan eksperimen seperti ilmu alam lainnya. Dia menyerukan untuk penelitian penyebab fisik dari penyakit mental dan mendirikan dasar-dasar sistem klasifikasi modern untuk gangguan mental. Kraepelin diusulkan bahwa dengan mempelajari sejarah kasus dan mengidentifikasi gangguan spesifik, perkembangan penyakit mental dapat diprediksi, setelah mempertimbangkan perbedaan-perbedaan akun individu dalam kepribadian dan usia pasien pada awal penyakit. Pada tahun 1884 ia menjadi dokter senior di Leubus dan tahun berikutnya ia diangkat sebagai direktur dari Treatment dan Perawatan Institut di Dresden. Pada tahun 1886, pada usia 30, Kraepelin bernama profesor psikiatri di Universitas Dorpat. Empat tahun kemudian, ia menjadi kepala departemen di Universitas Heidelberg, di mana ia tinggal sampai tahun 1904.

Tes Kraepelin adalah tes yang sering digunakan dalam wawancara rekruitment karyawan,bagi anda yang sudah pernah ngelamar pekerjaan sudah pernah merasakan pastinya.Dimana dalam tes tersebut anda akan diberi selembaran kertas yang penuh dengan angka-angka. kemudian sesuai dengan waktu yang telah ditentukan tester atau penguji akan meminta anda melanjutkan ke kolom selanjutnya sampai waktu tes berakhir.
Hasil psikotest, seperti Kraepelin-Pauli Test sering dipergunakan sebagai referensi dalam wawancara kerja untuk pertanyaan-pertanyaan seperti:

1. Dapatkah anda bekerja di bawah tekanan?
2. Bagaimanakah cara anda menangani konflik?
3. Ceritakan tentang situasi di mana pekerjaan anda dikritik.
4. Tipe orang seperti apa yang membuat anda kesulitan bekerjasama?
5. Sejauh apa anda dapat menangani perubahan? Dst


TEORI DAN PENGARUH
                 Kraepelin secara khusus dikreditkan dengan klasifikasi dari apa yang sebelumnya dianggap sebagai konsep kesatuan psikosis, menjadi dua bentuk yang berbeda:

    * Manik depresi (sekarang dilihat sebagai terdiri dari berbagai gangguan mood seperti         depresi besar berulang dan gangguan bipolar), dan
    * Dementia praecox.

                Menggambar pada penelitian jangka panjang, dan menggunakan kriteria tentu saja, hasil dan prognosis, ia mengembangkan konsep praecox demensia, yang didefinisikan sebagai pembangunan "sub-akut kondisi sederhana khas kelemahan mental terjadi pada usia muda . " Ketika ia pertama kali memperkenalkan konsep ini sebagai entitas diagnostik pada edisi Jerman keempat der Lehrbuch nya Psychiatrie pada tahun 1893, itu ditempatkan di antara gangguan degeneratif bersama, tetapi terpisah dari, paranoides catatonia dan demensia. Pada saat itu, konsep berhubungan oleh dan besar dengan hebephrenia Ewald Hecker's. Dalam edisi keenam Lehrbuch tahun 1899 ketiga jenis klinis diperlakukan sebagai ekspresi berbeda dari satu penyakit, praecox demensia.

              Salah satu prinsip kardinal metode nya adalah pengakuan bahwa setiap gejala yang diberikan dapat muncul di hampir salah satu dari gangguan ini, misalnya, hampir tidak ada satu gejala yang terjadi di praecox demensia yang tidak dapat kadang-kadang ditemukan dalam manik-depresi. Apa yang membedakan masing-masing penyakit gejala (sebagai lawan dari patologi yang mendasari) tidak ada gejala (pathognomonic) tertentu atau gejala, tetapi gejala pola tertentu. Dengan tidak adanya tes fisiologis atau genetik langsung atau penanda untuk setiap penyakit, hanya mungkin untuk membedakan mereka dengan pola khusus mereka gejala.
Dengan demikian, sistem Kraepelin adalah sebuah metode untuk pengenalan pola, bukan pengelompokan dengan gejala umum.

            Kraepelin juga menunjukkan pola tertentu dalam genetika dari gangguan ini dan pola-pola dan karakteristik yang spesifik dalam proses dan hasil. Secara umum, ada penderita skizofrenia cenderung lebih antara keluarga pasien skizofrenia dari pada populasi umum, sedangkan manik-depresi lebih sering pada kerabat manic-depresi. Meskipun, tentu saja, ini tidak menunjukkan keterkaitan genetik, karena dapat menjadi faktor sosio-lingkungan juga.

            Dia juga melaporkan pola perjalanan dan hasil dari kondisi ini. Kraepelin percaya skizofrenia yang memiliki kursus memburuk di mana fungsi mental terus menerus (walaupun mungkin tak menentu) menurun, sedangkan manic-depressive pasien mengalami perjalanan penyakit yang sebentar-sebentar, di mana pasien relatif gejala-gratis selama interval yang memisahkan episode akut. Kraepelin ini menyebabkan nama apa yang sekarang kita kenal sebagai schizophrenia, dementia praecox (bagian demensia menandakan penurunan mental ireversibel). Ini kemudian menjadi jelas bahwa praecox demensia tidak selalu menyebabkan penurunan mental dan dengan demikian nama skizofrenia oleh Eugen Bleuler untuk memperbaiki keliru Kraepelin's. Alzheimer

            Kraepelin mendalilkan bahwa ada otak tertentu atau patologi biologis lainnya masing-masing yang mendasari gangguan kejiwaan utama. Sebagai rekan Alois Alzheimer, dan co-penemu penyakit Alzheimer, itu adalah laboratoriumnya yang menemukan dasar patologis tersebut. Kraepelin yakin bahwa suatu hari nanti akan mungkin untuk mengidentifikasi dasar patologis masing-masing gangguan kejiwaan utama.

PENGARUH

      kontribusi besar Kraepelin dalam mengklasifikasikan skizofrenia dan manik-depresi masih relatif tidak diketahui oleh masyarakat umum, dan karyanya, yang tak punya kualitas sastra atau kekuasaan paradigmatis Freud, sedikit dibaca di luar lingkaran ilmiah kontribusi Kraepelin itu adalah. untuk yang baik Sejauh terpinggirkan di seluruh bagian baik dari abad kedua puluh, selama keberhasilan etiologi teori Freudian. Namun, pandangannya kini mendominasi penelitian psikiatri dan psikiatri akademik, dan hari ini literatur yang diterbitkan dalam bidang psikiatri yang sangat biologis dalam orientasi. teori dasar-Nya di etiologi dan diagnosis gangguan kejiwaan membentuk dasar dari semua sistem diagnostik utama yang digunakan saat ini, khususnya American Psychiatric Association DSM-IV dan Organisasi Kesehatan Dunia sistem ICD. Dalam hal ini, tidak hanya makna sejarah Kraepelin, tetapi penelitian psikiatri kontemporer juga sangat dipengaruhi oleh pekerjaannya.

PSIKOLOGI

       Kraepelin, menjadi murid Wilhem Wundt, memiliki minat umur yang panjang dalam psikologi eksperimental. Dalam Heidelberg dan Munich tahun awal ia diedit Psychologische Arbeiten, sebuah jurnal psikologi eksperimental. Salah satu kontribusi sendiri terkenal untuk jurnal ini juga muncul dalam bentuk monografi (105 hal) berjudul Über Sprachstörungen im Traume (pada gangguan bahasa dalam mimpi. Kraepelin, atas dasar analogi mimpi-psikosis, dipelajari selama lebih dari 20 tahun gangguan bahasa dalam mimpi untuk belajar secara tidak langsung schizophasia.

       Mimpi-mimpi Kraepelin dikumpulkan terutama sendiri. Mereka kekurangan komentar ekstensif oleh pemimpi. Dalam rangka untuk belajar mereka lengkap pengetahuan biografis yang tersedia saat ini di Kraepelin diperlukan (lihat misalnya Burgmair dkk., I-VII).
 



Daftar Pustaka

Kamis, 30 Oktober 2014

Wilhelm Wundt - Tokoh Psikologi Klinis - Universitas Gunadarma



TUGAS INDIVIDU
PSIKOLOGI UMUM


Wilhelm Wundt

Nama    : Feby Rendra Febriani
NPM     : 14514139
Kelas     : 1PA15




WILHELM MAXIMILIAN WUNDT
(Tokoh Psikologi Klinis)




A.   Biografi

Wilhelm Maximilian Wundt lahir pada tanggal 16 agustus 1832 di Neckarau, dekat kota Mannheim, Grand Duchy of Baden, Jerman dari sebuah keluarga intelektual (pendeta), putra dari seorang pendeta Lutheran. Sebagai seorang anak, Wundt kecil telah memperlihatkan temperamen yang agresif dan serius.
Sejak kecil beliau tidak mempunyai teman bermain, karena satu-satunya saudaranya yang masih hidup pergi untuk melanjutkan sekolah sedangkan dua lainnya telah meninggal dunia. Beliau lebih suka belajar dengan sahabat ayahnya yang juga seorang pendeta yang bernama Friederich Muller, sampai rela meninggalkan kedua orang tuanya dan pindah ke desa lain mengikuti Muller.
Saat berusia 19 tahun wundt belajar mengikuti ambisinya, yaitu belajar ilmu faal, namun karena ayahnya meninggal dunia dan kondisi keluarga yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan ia bersekolah di Universitas Tubingen, maka pada tahun 1851-1856 ia melanjutkan studi di bidang kedokteran di Universitas Heidelberg agar dapat langsung bekerja setelah lulus. Disana ia menamatkan studi kesarjanaannya serta memperoleh gelar doktor. Ia juga menamatkan kesarjanaannya dalam bidang hukum di Universitas Berlin. Selama tahun-tahun terakhir di Heidelberg ia menderita penyakit yang hampir fatal.
Beliau dikenal sebagai seorang psikolog, sosiolog, fisiolog, dokter, filsuf, ahli hukum, profesor dan seorang ilmuan yang banyak melakukan penelitian, termasuk tentang proses sensory (suatu proses yang dikelola panca indra). Dan juga dikenal sebagai penemu psikologi modern dan dianggap sebagai bapak psikologi eksperimental.
Awalnya ia mengajar fifiologi di Universitas Heidelberg, ia menawarkan program pertama yang diajarkan dalam psikologi ilmiah sambil menekankan penggunaan metode eksperimental yang diambil dari ilmu-ilmu alam dan menekankan hubungan fisiologis otak dan fikiran.
Latar belakangnya akan berdampak besar pada pendekatan ilmu baru psikologi. Ceramah psikologi diterbitkan sebagai kuliah dalam fikiran manusia dan hewan tahun 1863. Pada tahun 1864 beliau dipromosikan sebagai asisten profesor fisiolog dan ahli fisika di Heidelberg, Hermann Von Helmhotz, sebelumnya beliau belajar singkat dengan Johannes Putter Muller pada tahun 1858-1864.
Kemudian di pindahkan ke laboratorium Helmhotz. Disitulah muncul ide bahwa psikologi merupakan cabang ilmu yang mandiri dan disana juga dia menulis bukunya yang berjudul “Beitrage Zur Theorie Der Sines Wahrnemung” (persepsi yang dipengaruhi kesadaran) yang berisi ide dan pemikirannya dan mengindikasikan bahwa ia tertarik pada psikologi, dan buku tersebut diterbitkan pada tahun 1862 sebagai bukunya yang pertama.
Dalam buku itu terdapat istilah “Experimental Psycology” yang didasarkan atas eksperimen-eksperimen yang dilakukannya sendiri di laboratoriumnya sendiri. Buku lainnya diterbitkan tahun 1873 yaitu “Grund zuge der Physiologichen Psychologie” (dasar fisiologis dari gejala-gejala psikologi), yang berisi kuliah-kuliah yang diberikan Wundt tentang psikoligi dan ilmu faal.  Kemudian ia menikahi seorang perempuan yang bernama Sophie Mau di Heidelberg.
Tahun 1867, di Heidelberg wundt membuka course dalam bidang Physiological Psychologi, yang merupakan course pertama kali di dunia tentang hal tersebut. Namun pengertian dari Physiological itu menurut Wundt adalah eksperimental. Jadi Wundt mengajar dan menulis mengenai Physiological Psychologi dalam arti Exsperimental Psychology.
Wundt menulis lebih dari 54.000 halaman (4) buku, laporan penelitian dan teori serta menghabiskan 46 tahun sisa hidupnya untuk melatih para psikolog dan menjadi pembimbing disertasi 186 doktor dari berbagai disiplin ilmu. Beberapa karyanya adalah “Kuliah pada Manusia dan Hewan Psikologi, Essay,” “Etika: Sebuah Investigasi Fakta dan Hukum Kehidupan Moral,” “Hypnotismus dan Saran ( 1892),” dan “Pengantar Psikologi”.


B.   Teori

Tahun 1874 wundt membuat karya tulis yang menggunakan sistem dalam psikologi yang menyelidiki pengalaman langsung (mediate experience) dari kesadaran manusia yang berjudul "Principles of Physiological Psychology". Pengalaman langsung tersebut memberikan informasi atau pengetahuan tentang sesuatu yang lain dari elemen pengalaman itu sendiri.
Pengalaman itu dijelajahi melalui introspeksi (penelitian seseorang dengan observasi dirinya sendiri mengenai keadaan psikisnya) termasuk perasaan, emosi, dan gagasan. Metode yang digunakan adalah metode observasi. Bagian sistem strukturalisme Wundt ini yang dikembangkan dan diperjuangkan oleh muridnya Titchener yang tidak dapat bersaing secara efektif dalam lingkungan Amerika fragmatis dengan pribumi.
Pada the immediate experience (pengalaman yang tidak langsung) melihat sesuatu itu tidak pada objeknya, tapi lebih pada pengalaman mengenai sesuatu tersebut. Sehingga tidak dibiasi oleh interpretasi, dalam arti pada objek sesuatu tersebut.
Pada tahun 1875, ia pindah ke Leipzig, Jerman. Di universitas Leipzig ia mendirikan phsycological institute dimana ia juga memperoleh posisi sebagai profesor. Pada tahun 1879 ia mendirikan laboratorium psikologi yang menandakan bahwa psikologi menjadi cabang ilmu yang mandiri. Sebelum tahun 1879, sudah banyak orang yang mengenal psikologi, namun belum ada yang mau mengaku menjadi sarjana psikologi. Baru setelah berdirinya laboratorium psikologi tersebut, seluruh sarjana dari seluruh dunia berkumpul untuk laboratorium tersebut, dan Wundt tidak lagi dianggap sebagai dokter dan ahli ilmu faal, karena mengadakan penelitian-penelitian di laboratorium yang ia dirikan.
Di awal berdirinya laboratorium ini, wundt membiayai dari kantongnya sendiri sebagai usaha pribadi. Baru pada tahun 1885, laboratorium ini diakui oleh universitas Leipzig secara resmi dan dibiayai. Laboratorium ini berkembang pesat sebelum gedungnya hancur pada perang dunia ke-2. Pada tahun 1881 wundt juga membuat jurnal riset yang pertama.
Dalam usahanya menyelidiki berbagai gejala kejiwaan di laboratoriumnya, Wundt banyak menggunakan metode eksperimen,karena itu ia dikenal sebagai seorang eksperimentalis. Dari itu Wundt menyadari bahwa eksperimen harus dilakukan dengan metode tertentu dan bahwa faktor pribadi tidak dapat diabaikan dalam penelitian psikologi. Karena itu Wundt menggunakan metode introspeksi atau selbsbeobachtung, dimana orang percobaan diminta untuk melihat ke dalam dirinya sendiri setelah suatu eksperimen dan menceritakan kembali apa yang dialami dan dirasakan selama eksperimen berlangsung. Karena itu Wundt dikenal sebagai seorang introspeksionis. Dalam salah satu karyanya ia menulis “Psychology begins with introspection” (Psikologi mulai dengan introspeksi).
Mengenai introspeksi, Wundt mengajukan beberapa ketentuan, yaitu (a) observer harus mampu menentukan kapan proses itu terjadi, (b) observer harus memusatkan perhatiannya, (c) observer harus mampu mengulangi observasi berulang kali, (d) eksperimenter harus mampu mengontrol manipulasi dari stimulus.
Awalnya wundt menggolongkan mind mencakup proses-proses ketidak sadaran (unconsiousness) dengan metode eksperimen (cara untuk membawa mind ke dalam batas-batas ruang lingkup natural science yang empiris dan objektif). Namun dalam perkembangannya wundt mengakui bahwa metode eksperimental dalam psikologi fisiologi sangat kuat untuk menggali elemen-elemen soul yang mendasar, namun masih ada proses mental yang lebih tinggi (higher mental process) yang mengintegrasikan fenomena dasar tersebut, yang muncul dalam bentuk kreatifitas mental dan menjadi kekuatan sebuah peradaban yang bersifat abadi seperti mitos, bahasa, custom dan budaya.



Daftar Pustaka